Senin, 2008 Mei 12

Tidak Sesuai Pendidikan Indonesia, 10 Tayangan Televisi Terancam Dihentikan

Kecemasan dan kegelisahan masyarakat terhadap terhadap acara-acara televisi yang semakin jauh dari unsur pendidikan akan segera terobati dengan adanya pernyataan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang menyatakan bahwa ada 10 tayangan televisi yang terancam akan dihentikan oleh pemerintah karena telah meyimpang bahkan merusak pendidikan masyarakat. Telah merusak pendidikan masyarakat disebutkan karena mengandung unsur unsur kekerasan, tidak sesuai norma kesopanan dan kesusilaan, dan terdapat pelecehan kelompok dan individu.

10 tayangan TV yang merusak pendidikan itu adalah Mister Bego (ANTV), Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI), Namaku Mentari (RCTI), Extravaganza (Trans TV), Super Selebshow (Indosiar), Mask Rider Blade (ANTV), Cinta Bunga (SCTV), Rubiah (TPI),Si Entong (TPI), dan Jelita (RCTI). Dan menurut KPI sebetulnya bukan berarti tayangan diluar 10 itu sudah baik atau sudah sesuai dengan pendidikan anak dan masyarakat Indonesia, masih ada kemungkinan daftar tayangan yang terancam dihentikan itu bertambah.

Memang, tayangan televisi di Indonesia pada umumnya telah beralih dari usaha mendidik masyarakat agar bangsa Indonesia ini bangkit dari segala krisis dan keterpurukan, menjadi usaha komersial yang berujung pada uang. Marilah dilihat contohnya tayangan sinetron yang pada awalnya bagus dan mendapat rating yang tinggi kemudian sinetron itu di ulur-ulur sampai episode 100 lebih.

Memang media massa merupakan alat cukup ampuh sebagai pengembangan opini dan kesadaran masyarakat. Bila kita lihat di negara maju contohnya Jepang, di sana banyak acara televisi (drama, kartun animasi dan movie) di dalamnya disisipkan bagaimana mempunyai semangat pantang menyerah, bekerja keras, kesetiaan sahabat dll. Dan bila kita lihat memang etos kerja orang Jepang seperti yang digambarkan oleh acara tersebut.

Ini berbeda dengan acara televisi di Indonesia yang di dominasi dengan gaya hidup mewah (glamour), pasrah dengan keadaan, sinetron yang penuh tetesan air mata, kemudian dengan acara mistik dan klenik. Akibat dari pendidikan media massa yang seperti ini kebanyakan orang-orang Indonesia sekarang hanya mampu berangan-angan dan pasrah dengan keadaan yang menimpanya.

Apabila dunia media massa di Indonesia dapat diarahkan kepada pendidikan Indonesia yang bertujuan mencerdaskan bangsa. Pastinya masyarakat Indonesia akan segera menemui kebangkitan.

Dan semoga ke depan usaha KPI ini dapat berjalan mulus sehingga tayangan-tayangan yang disuguhkan kepada masyarakat berbuah manis pada pendidikan Indonesia.